Bekal Sehat Untuk Buah Hati Tercinta

Apa Manfaat Anak Membawa Bekal?

Dewi: Kita enggak tahu kebersihan kantin di sekolah. Makanan yang dijual pun terkadang enggak jelas, sehat atau enggak. Manfaat lainnya tentu membawa bekal itu lebih hemat. Vina: Manfaatnya selain hemat, bawa bekal tentu lebih hiegenis. Pernah beli nasi uduk di sekolah ternyata ada rambutnya. Sejak saat itu setiap hari saya membuatkan anak bekal. Menunya ganti-ganti, nasi goreng, nasi kuning. Kalau sudah terlambat ya… roti isi meises. Inez: Lebih hieginis dan sehat sementara kalau jajan di sekolah ada kekhawatiran makanannya mengandung pewarna dan penyedap. Anna: Lebih hemat dan hieginis. Pihak sekolah biasanya setiap hari Jumat menyediakan makanan. Hanny: Manfaatnya sama seperti yang sudah disebutkan yaitu hemat. Lagi pula kalau anak saya tidak bawa bekal nanti dia enggak makan karena di sekolahnya enggak ada kantin. Selain itu dengan bawa bekal anak mempunyai tenaga untuk berpikir sehingga belajarnya menjadi lancar. Saeful: Terpikir enggak sih sama para ibu ini dengan membuatkan bekal anak merasa dicintai. Jun: Iya, benar banget….

Seperti Apa Bekal Mama Untuk Buah Hati?

Inez: Karena anak harus cepat sampai sekolah, menu bekalnya jadi standar kayak nasi goreng, spageti, sosis, atau nugget. Kalau sayuran, makannya di rumah. Anna: Anak saya baru kelompok bermain dan sekolahnya seminggu dua kali. Kadang dibawakan bekal dan kadang tidak. Kalau bawa bekal, buatnya yang simpel saja seperti chicken nugget, telur rebus atau telur goreng pakai kecap. Kalau tidak beli fastfood atau bekal berupa biskuit. Jadi yang simpel saja. Jun: Untuk bekal anak seharihari bikin yang simpel seperti nasi goreng atau sandwich. Saya memang berharap dari hangout ini bisa mendapat inspirasi untuk membuat bekal yang lebih bervariasi.

Pristin: Telur dan nugget memang telah menjadi sahabat para ibu karena sepertinya tidak ada anak Indonesia yang tidak suka itu. Salah satu kelemahan anak Indonesia juga tidak pernah dibiasakan makan sayur mentah atau sayur rebus/kukus. Padahal lidah mempunyai banyak sensor perasa dan ini harus dilatih, salah satunya dengan dibiasakan makan sayur. Idealnya, latihan mengenal rasa dilakukan sedikit demi sedikit semenjak anak memperoleh makanan padat. Jangan terpaku pada makanan itu-itu saja.

Jika anak tidak terbiasa makan makanan yang bervariasi, ketika besar akan lebih berat 10 kali lipat mengubah polanya (yang senang makan itu-itu saja). Jadi, untuk sekarang belum terlambat, perkenalkan saja anak dengan rasa sayur. Contoh, anak tidak suka makan brokoli, dia sukanya nugget. Maka cincanglah brokoli dan masukkan dalam daging cincang dengan perbandingan daging cincang dan brokoli 80:20. Nanti ditingkatkan lagi menjadi 70:30. Lakukan negosiasi dengan anak tanpa pemaksaan. Jika anak mau mencobanya, beri reward bisa dalam bentuk makanan yang dia sukai. Kalau perlu ajak anak memasak bersama. Bila orangtua enggak punya waktu, bisa dilakukan saat weekend. Tentu semua ini membutuhkan kemauan dari orangtua.

Untuk mendapatkan informasi lebih simak situs pendidikan anak dan parenting terbaik agar lebih luas wawasan dalam mendidik anak.