Jangan Takut untuk Menjadi Seorang Ibu

Membukukan Pengalaman Pribadi

“Jatuh bangun” seorang ibu baru tak perlu disimpan. Jika cerita pribadi ini dibagikan justru dapat memberikan insprasi dan motivasi bagi para ibu lainnya. Keyakinan ini membuat dr. Meta Herdiana Hanindita (30) menghasilkan 4 buku. Dua buku pertama menceritakan kehidupan Meta saat kuliah di Fakultas Kedokteran (FK).

Dua buku terakhir menceritakan kehidupannya sebagai ibu baru. Buku terbaru, Don’t Worry to be a Mommy! dilatarbelakangi aneka kebingungan Meta saat menjadi ibu baru. “Awalnya saya pikir menjadi ibu itu gampang, secara naluriah saja. Tapi saat menjalani prosesnya, jadi tidak segampang itu. Banyak yang harus dipelajari. Saya berusaha mencoba membahas dari sisi seorang ibu baru yang juga sedang menjalani pendidikan dokter anak.”

Meta pun berbagi pengalamannya di blog. Tanpa diduga, respons yang muncul banyak sekali. Kebanyakan merasa terbantu dengan cerita Meta. Hal ini mendorongnya membukukan pengalamannya, dengan harapan, yang merasa terbantu bisa lebih banyak lagi. “Saya yakin, semua ibu ingin menjadi ibu yang baik. Terlepas dari status ibu bekerja atau tidak, memberikan ASI atau susu formula, melahirkan secara normal atau sesar,” ungkap istri dari dr. Hari Nugroho Sp.OG ini.

Edukasi Di Tempat Terbatas

Saat ini Meta berstatus sebagai residen Pendidikan Dokter Spesialis Anak di FK Unair Surabaya. Ia juga siaran di radio DJ 94.8 FM dan terkadang menyempatkan diri untuk syuting di stasiun televisi lokal. Meta juga rutin menulis di blog-nya. Selama Februari 2014, Meta diminta berdinas di RSUD Soe, Ibukota Kabupaten Timor Tengah Selatan, NTT (Nusa Tenggara Timur).

Itu adalah pengalaman pertama Meta bertugas di luar pulau Jawa. Ternyata banyak budaya yang tidak pernah ia temukan sebelumnya, membuatnya sering terkaget-kaget. “Ada budaya memanggang bayi baru lahir di atas bara api agar tidak kedinginan sekalian juga mengusir roh jahat. Maka banyak sekali bayi yang luka bakar, dehidrasi karena panas, atau radang paru-paru karena mengirup asap hasil pembakaran,” papar ibu dari Arshiya Nayara Avanisha Nugroho (3).

Karena di sana air bersih sulit, banyak sekali kasus diare dan infeksi yang berhubungan dengan rendahnya kebersihan sanitasi. “Saya harus kreatif dengan fasilitas seadanya. Tidak ada pemeriksaan rontgen atau pemeriksaan tambahan lain. Obat-obatan pun terbatas. Sedihnya kalau saya tidak bisa membantu pasien yang datang karena sudah terlambat. Biasanya pasien baru datang ke rumah sakit kalau sudah benar-benar parah, sudah ke dukun tapi tak kunjung sembuh.

Saat dijelaskan keadaan pasien sudah parah, keluarga malah meminta pulang paksa karena berasumsi anaknya kena gunaguna.” Menghadapi hal-hal seperti itu, Meta kerap memberikan penjelasan tentang hal-hal dasar yang penting diketahui. Misalnya, bagaimana merawat bayi baru lahir atau penanganan yang tepat pada kasus diare.

Simak juga situs pelatihan bahasa asing terbaik untuk memberikan anak bekal bahasa di kemudian hari. Karena di masa kecil adalah masa emas seseorang dalam menerima ilmu baru.