Mendukung Pendidikan Melalui Program Peningkatan Gizi

Masalah pendidikan sejatinya tak selalu pada soal sarana dan prasarana, tetapi fisik dan psikologis anak juga menjadi bagian penentu tercapainya misi mulia dan cita-cita para pegiat pendidikan di negeri ini untuk melahirkan generasi bangsa yang cerdas, sehat, dan unggul. Kesadaran itulah yang mendorong Baitul Maal Hidayatullah (BMH) secara serentak menginisiasi Program Sehat Peduli Gizi yang berlangsung secara serentak di 28 provinsi, tidak terkecuali di Kupang, Nusa Tenggara Timur.

“Kurang lebih 2 jam perjalanan dari tengah kota menuju Desa Boneana, Kecamatan Kupang Barat, Kabupaten KupangNTT,” terang Kepala Perwakilan BMH NTT, Rasman Z. Tkella. Berbagai rintangan dan halangan yang dihadapi tim BMH tidak menurunkan semangat juang para relawan dan amil untuk tetap berpacu hingga ke lokasi penyaluran.

“Mulai dari cuaca yang berubah-ubah, apalagi saat ini sedang memasuki musim penghujan, hingga jalan rusak dan bebatuan, menjadikan tim mesti ekstra hati-hati dalam berkendara,” tuturnya. Namun semangat pantang menyerah menjadikan tim tetap solid dan kompak hingga tiba di lokasi. “Kami selalu istiqamah apa pun rintangannya, kami siap menghadapinya,” ucap relawan BMH, Syaiful.

Tim tiba di lokasi, tepatnya SD Boneana, Kecamatan Kupang Barat, pada pukul 11:00 WITA. Disambut oleh perwakilan sekolah tersebut, Ishak, yang mewakili Kepala Sekolah. “Alhamdulillah, kami berterima kasih kepada BMH dan YBM PLN yang telah memberikan paket asuransi pendidikan anak premi murah dan gizi ini kepada siswa kami. Semoga dengan paket ini anak-anak semakin bersemangat lagi dalam menuntut ilmu,” katanya. Anak-anak SD, balita, dan ibu hamil, serta lansia yang berada di Desa Boneana berhimpun tertib dan rapi. “Kami mengucapkan terima kasih kepada BMH dan PLN serta seluruh donatur yang telah menyalurkan paket gizinya,” sebut Awad Ibrahim, salah seorang penerima paket tersebut.

Kupang secara khusus menjadi target sasaran program ini mengingat data dari Dinas Kesehatan Provinsi NTT mengenai gizi buruk menyebutkan sebanyak 21.134 balita di NTT mengalami kurang gizi. Dari jumlah tersebut, 1.918 di antaranya masuk kategori gizi buruk.

Aksi serupa juga dilaksanakan di Jayapura, Papua, kemudian Suku Asmat di Merauke, Manokwari, Papua Barat, serta di perbatasan Kalimantan Utara. Terkait alasan program ini digulirkan, BMH Pusat menyebutkan, “Pertama sebagai wujud tanggung jawab moral sebagai sesama anak bangsa. Kedua ini sejalan dengan program pemerintah, Gerakan Nasional Percepatan Perbaikan Gizi,” terang Direktur Program dan Pendayagunaan BMH Pusat, Dede HB. Secara nasional program ini mencatat 7.404 penerima manfaat dengan komposisi 401 ibu hamil, 6.928 balita dan anak usia sekolah, serta 75 lansia.