Tantangan Mama Menyiapkan Bekal

Hilman: Umumnya, ibu bekerja juga ingin membuatkan bekal yang sehat buat anaknya. Bagaimana cara menyiapkan bekal yang praktis dan sehat karena kendalanya biasanya masalah waktu? Jun: Setuju, kesulitan kita sebagai orangtua memang masalah waktu. Jadi saat membuat bekal untuk anak yang simpel-simpel saja. Anakku juga susah makan, jadinya pilihannya nugget, sosis itu saja sih. Tapi saat makan di rumah, saya bisa membuat menu yang lebih khusus lagi. Vina: Iya, karena masalah waktu juga saya enggak sempat untuk menghias bekal. Kalau mau bawain telur ya digoreng saja, enggak pakai dihias-hias.

Pristin: Soal keterbatasan waktu memang kendala bagi banyak ibu. Ada trik untuk itu, yakni siapkan bekal dari malam. Saat akan membuat bekal berupa nasi berbentuk beruang, misalnya, nasi sudah dibentuk sejak jam 8 atau 9 malam. Bungkus nasi itu dengan plastic wrap (bisa dibeli di supermaret) lalu masukkan dalam chiller (kulkas bagian bawah). Paginya, buka bungkusan nasi tersebut, lalu masukkan nasi ke dalam dandang untuk dihangatkan. Kemudian baru pasang mata, hidung, dan mulut yang memang sudah disiapkan. Jadi, mau memberikan bekal sehat itu memang butuh e­ ort. Hanny: Aku juga sudah menerapkan seperti itu. Anak saya suka kalau nasinya dibentuk Hello Kitty, jadi saya sudah siapkan dari malam tapi saya enggak pernah kasih kumis, cuma mata dan hidung. Di kotak makannya juga ada telur, sosis, dan sayur yang bisa dia makan. Dibuat seperti itu berguna lo. Karena anak yang enggak doyan makan jadi lahap makannya.

Siapa Yang Menyiapkan Bekal?

Inez: Mbaknya. Hanny: Aku sendiri dibantu asisten Pristin: Di Indonesia memang seperti itu. Pengalaman saya membuat workshop dengan maksud mengedukasi para ibu, kenyataannya ketika membuka pendaftaran ada ibu yang mendaftarkan tiga nama. Ternyata yang ikut workshop adalah suster dan dua pembantunya. Saya mau ngomong apa? Para asistennya sudah tahu apa makanan kesukaan si anak. Secara pribadi saya sebetulnya merasa miris mendengarnya. Alasan ibu itu dia bekerja dan tidak ada waktu untuk bikin bekal. Sementara dia punya asisten yang digaji. Kenapa tidak mereka saja yang buat. Menurut saya, mengapa tidak ibunya mengusahakan di hari weekend. Seperti kebanyakan budaya luar aktivitas memasak bersama dengan anak dijadikan sebagai aktivitas weekend.

Inez: Aduh, saya jangan dicontoh ya.. ha ha ha. Memang sih alasannya waktu, padahal MALAS. Memang benar, kalau orang luar itu tidak ada bala bantuan, semua masak serba-sendiri. Saya sering lihat di TV. Sepertinya mereka mudah dan fun sekali masaknya. Anak juga belajar berkomunikasi dengan ibunya. Dengan memasak bersama sebenarnya ibunya juga belajar sabar karena sering kali anaknya justru mengacak-acak dapur. Dulu mamaku pintar sekali masak dan masakannya enak tapi dia panikan dan enggak sabaran. Jadi, kalau kami mau bantu di dapur dilarang katanya jadi lama. Akhirnya, saya enggak suka sama dapur. Kalau kebagian tugas memasak di sekolah waktu SMA, tugas saya paling di bagian cuci piring. Kalau alasan saya tidak mengajak anak memasak bersama, lebih pada kekhawatiran pada bahaya api dan pisau. Jadi saya tidak memaksa dia untuk ke dapur.

Pristin: Saya setuju dengan Mbak Inez. Anak jangan dipaksakan, nanti malah trauma pada dapur. Saya juga tidak memaksa anak ke dapur. Kalau saya buat pisang goreng, awalnya saya akan meminta anak melihat saja. Sampai kemudian dia minta untuk mencoba menggoreng. Sekarang anak saya 10 tahun dan sudah bisa goreng pisang dan tahu sendiri. Anaknya memang tertarik sekali pada dunia masak memasak. Tangannya sampai beberapa kali terbaret pisau. Memang tidak ada yang menjadi ahli tanpa kecelakaan seperti lukaluka. Tapi untuk mengurangi risiko terluka, saya tidak mengizinkan dia memotong bahan masakan yang permukaannya licin seperti bawang atau wortel. Kalau daging saya kasih dia untuk mencoba.

Saeful: Jadi ibu yang jago masak dilihat dari tangannya ya? Ha ha ha ha. Pristin: Sebetulnya itu risiko. Anak perlu diberi tahu tentang risiko, kalau mau potong wortel, ada risiko terluka, jadi kalau nanti terluka jangan menangis. Sebenarnya ketika saya melihat anak terluka dan berdarah pengin pingsan sih. Tapi prinsipnya ibu harus tenang dan tidak boleh panik ketika melibatkan anaknya di dapur. Kita bantu anak mencuci lukanya dan mengobatinya. Jadi, Bu, kalau anak di dapur bersiap dan relakanlah kalau ada barang yang pecah-pecah. Sebaiknya, barang pecah belah diganti dengan yang plastik.

Simak portal gaya hidup untuk mendapatkan wawasan lebih tentang cara hidup sehat untuk keluarga.